Membaca Sejarah di Rawa
Membaca Sejarah di Rawa
Para ilmuwan sering "membaca" sejarah bumi dan penghuninya menggunakan "buku" yang sangat berbeda dari sejarawan tradisional. Misalnya, hilangnya dinosaurus secara "instan" 65 juta tahun yang lalu (dalam waktu geologi) adalah misteri besar hingga iridium dan osmium dengan kadar yang luar biasa tinggi ditemukan pada posisi di kerak bumi yang sesuai dengan waktu geologis saat itu. Kadar iridium dan osmium yang tinggi ini menunjukan bahwa terdapat benda luar angkasa yang telah menyerang bumi 65 juta tahun yang lalu dan menghasilkan bencana pemusnahan dinosaurus. Sejak itu, kawah besar yang terkubur disebabkan oleh objek telah telah ditemukan di Yucatan Peninsula, dan hampir semua orang sekarang yakin bahwa ini adalah penjelasan yang masuk akal untuk misteri menghilangnya dinosaurus.
Sejarah juga sedang "dibaca" oleh para ilmuwan dengan mempelajari inti es dari gletser di Islandia. Ilmuwan Swiss telah menemukan bahwa gambut-gambut kuno dapat digunakan untuk melengkapinya catatan sejarah. Geokimiawan William Shotyk dari Universitas Bern mempelajari sejarah 15.000-tahun terakhir dengan menganalisis kadar unsur dari gambut rawa di pegunungan Swiss [Science 281 (1998): 1635]. Berbagai bagian dari sampel gambut ditentukan usianya menggunakan teknik penanggalan 14C, kemudian dianalisis untuk mengetahui kadar unsur skandium dan timbal dalam sampel lumut tersebut. Selain itu rasio 206Pb/207Pb pada masing-masing sampel diukur. Data-data hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel dibawah.
Perhatikan bahwa rasio 206Pb/207Pb secara konstan mendekati nilai 1,20 (lihat pita merah pada gambar) dari 14.000 hingga 3200 tahun. Nilai 1,20 sama dengan rasio rata-rata 206Pb/207Pb di bumi. Kemudian kadar total timbal dan skandium meningkat secara bersamaan pada 6000-tahun tetapi rasio 206Pb/207Pb tetap dekat dengan 1,20. Ini bertepatan dengan awal pertanian di Eropa, yang menyebabkan lebih banyak debu tanah memasuki atmosfer.
Secara signifikan (sekitar 3000 tahun yang lalu) rasio 206Pb/207Pb menurun tajam. Ini juga berhubungan dengan peningkatan kadar timbal total dari sampel melebihi kadar peningkatan skandium. Hal ini menunjukkan bahwa timbal tidak lagi dihasilkan dari debu tanah tetapi dari kegiatan manusia lainnya (pertambangan timbal dimulai). Sejak 3000 tahun lalu, rasio 206Pb/207Pb tetap di bawah 1,20, hal menunjukkan bahwa manusia menggunaan bijih timbal telah menjadi penambangan utama. Hal ini dikonfirmasi oleh penurunan tajam rasio dimulai 200 tahun yang lalu yang sesuai dengan impor bijih timbal ke Inggris sehingga rasio 206Pb/207Pb sangat rendah.
Sejauh ini hanya unsur Pb yang telah digunakan untuk membaca sejarah dirawa. Namun, kelompok peneliti Shotyk juga mengukur perubahan dalam kadar tembaga, seng, kadmium, arsen, merkuri, dan antimon. Cerita yang lebih menarik lainnya pasti akan diketahui.
John Mc Murry, General Chemistry, 4th Edition
Zhumdahl, Chemistry, 8th Edition
Komentar
Posting Komentar